Facebook SDK

banner image

Bercermin dari Kasus JIS: Hati-hati dengan Memori Palsu Si Buah Hati

Ahli investigasi kekerasan terhadap anak dari Australia, Chris O'Connor, sengaja datang ke Indonesia untukmemberikan kesaksian sebagai ahli dalam sidang Kasus JIS. Kesaksiannya sungguh mengejutkan sekaligus membawa secercah cahaya bagi para terdakwa.

mengatakan bahwa kesaksian MAK di persidangan sebenarnya tidak dapat dijadikan bukti. Bahkan kesaksian yang bisa menimbulkan masalah baru seperti intimidasi hingga tewasnya salah seorang tersangka sangat tidak bisa diterima.Lantas, mengapa tidak bisa dijadikan bukti?

Dalam sebuah acara gathering bersama keluarga terdakwa kasus JIS di Jakarta, beberapa waktu yang lalu, O’Connor mengatakan bahwa,anak-anak sangat mudah mengalami sindrom ingatan palsu atau mudah meyakini sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi sehingga kesaksiannya tidak kuat.

"Memori seorang anak sangat rentan, dia bisa dengan mudah memanipulasi keterangannya dan meyakini bahwa apa yang diterangkannya, meskipun tidak pernah terjadi, adalah fakta," kata O'Connor.
"Karena itu, meminta keterangan dari anak berbeda dengan meminta kepada orang dewasa," ujarnya.
Dia juga menyatakan ketidak yakinannya atas kejadian tindakan asusila seperti yang selama ini dituduhkan kepada para terdakwa.

“Dari pengalaman saya dan apa yang saya lihat, saya tidak percaya ada kejadian itu," katanya. 
Selama 35 tahun, O’Connor bekerja di bidang investigasi dan perlindungan anak. Ia membantu  menyelesaikan kasus kekerasan seksual terhadap anak di berbagai negara, seperti Finlandia, Inggris, juga Amerika. Selama itu, ia belum pernah menemukan kasus seperti kasus JIS ini. 

"Saya baru menemukan ada kasus seperti ini," ujarnya. Satu korban disodomi oleh enam orang dewasa,  salah satunya perempuan, dan dilakukan di sekolah berulang kali.

Pengacara terdakwa Syahrial dan Agriawan, Patra M Zen, yang hadir dalam kesempatan tersebut juga mengatakan bahwa, sidang Kasus JIS ini tidak jarang menghadirkan saksi ahli dari luar negeri. Hal ini tidak lain untuk menjelaskan bahwa interview kepada anak tidak boleh dilakukan main-main. 

“Bohong kalau ada yang mengatakan anak itu tidak pernah berbohong, dan juga bohong bila seorang ibu tidak mungkin menjerumuskan sang anak. Sebab banyak fakta ibu-ibu yang bejat, yang tega mengorbankan anaknya sendiri.Oleh karena itu, kita berhadapan dengan satu kesadaran umum, bahwa anak itu tidak pernah bohong. Sebab, banyak orang yang dihukum gara-gara keterangan anak. Karena itu proses interview dan proses introgasi harus dilakukan dengan benar,” kata Patra.

Dalam kasus JIS, sudah sangat jelas pengaruh intervensi sang ibu ketika anak itu memberikan keterangan. Bukan karena anak itu ingin berbohong, tapi banyak motivasi dan alasan dibalik itu semua. Contohnya saja si anak hanya ingin mengiyakan pertanyaan agar proses tanya jawab yang membuat ia tidak nyaman berlangsung lebih cepat.

O’Connor, Patra juga menjelaskan bahwa sebuah kalimat akan mudah melekat dalam memori si anak, meskipun itu bukan fakta alias fiktif. Hanya dengan 10 minggu apa, bila si anak dicekoki dengan kalimat yang sama, misalnya ‘saya telah disodomi’, maka ketika ditanya kapan pun juga, jawabannya akan sama. Bahkan dalam jangka satu minggu, jawaban si anak sudah bisa diarahkan. Dan dalam jangka waktu enam bulan, kalimat itu akan tertanam seperti kalimat itu benar-benar pernah dialaminya. 

Karena itu, menurut Patra, kehadiran saksi ahli ini sangat penting, karena menyangkut nasib orang yang tidak bersalah. 

“Apapun keputusannya nanti, ini adalah satu upaya kita untuk membantu mereka. Saya yakin, Zainal Azwar, Agriawan, Syahrial, Agun, Afrischa, tidak pernah melakukan perbuatan yang dituduhkan, disangkakan, apalagi didakwakan,” kata Patra.

Bercermin dari Kasus JIS: Hati-hati dengan Memori Palsu Si Buah Hati Bercermin dari Kasus JIS: Hati-hati dengan Memori Palsu Si Buah Hati Reviewed by Antitesa on December 09, 2014 Rating: 5

No comments:

Home Ads

Powered by Blogger.