Facebook SDK

banner image

Kontras Menemukan Banyak Kejanggalan Dalam Kasus JIS

Fakta-fakta baru tentang kejanggalan kasus dugaan pelecehan terhadap murid Taman Kanak-Kanak Jakarta International School (JIS) semakin berseliweran di masyakarat termasuk di media-media masa. Tidak hanya satu atau dua, tapi sudah banyak beredar.

Hal ini menunjukkan bahwa kasus ini memang kasus rekayasa demi kepentingan dan keuntungan pihak tertentu (dalam hal ini pihak pelapor, yaitu Ibu Theresia Pipit Widowati Kroonen). Dan lagi-lagi yang menjadi korban adalah rakyat kecil yang tak mampu berbuat apa-apa, yaitu para petugas kebersihan JIS.

Mereka mendapat perlakuan tidak adil dari pihak penyidik kepolisian. Mereka diintimidasi dengan sejumlah tindak kekerasan agar mengakui perbuatan (melakukan tindak kekerasan seksual terhadap MAK dan korban lainnya) yang sebenarnya tidak mereka perbuat.

Kabar intimidasi ini bukan hanya kabar burung semata. Fakta-fakta persidangan menunjukkan bahwa memang benar terjadi kekerasan dan intimidasi oleh penyidik terhadap para petugas kebersihan tersebut. Para saksi dan keluarga juga menyatakan adanya bekas kekerasan seperti luka dan lebam di wajah mereka.

Pengakuan para petugas kebersihan tersebut bahwa mereka tidak melakukan tindakan sodomi seperti yang dituduhkan oleh Ibu Pipit, bukan omong kosong belaka. Bukti visum dari beberapa rumah sakit, termasuk RSCM dan Rumah Sakit Pondok Indah, terhadap korban, MAK, tidak membuktikan adalah tindakan sodomi kekerasan seksual tersebut.

Perkembangan kasus ini sepertinya akan semakin menguak fakta bahwa kasus ini hanyalah sebuah rekayasa.

Kemarin, Selasa (05/11/2014), Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban tindak Kekerasan (Kontras)menegaskan didepan wartawan mengenai kekecewaannya dengan ketidak profesionalan institusi Polri dalam menangani beberapa kasus, di antaranya kasus JIS.Fakta-fakta yang sesungguhnya terjadi tidak menjadi pertimbangan bagi penyidik Polri, sehingga kasus kemudian tetap diproses hingga ke pengadilan Negeri Jakarta Selatan..

Dalam jumpa pers tersebut, Koordinator Kontras Haris Ashar mengatakan, terdapat sejumlah kejanggalan dalam proses hukum terhadap para tersangka, yaitu dalam proses penyidikan di Polda Metro Jaya, para tersangka mengalami sejumlah tekanan dan penyiksaan.Bahkan salah seorang tersangka (Azwar) akhirnya meninggall di dalam tahanan.

Polri menyatakan bahwa tersangka melakukan aksi bunuh diri dengan meminum pembersih lantai saat meminta izin untuk ke toilet pada waktu proses BAP berlangsung,Namun gambar yang ditunjukkan kepada wartawan menunjukkan bahwa pada saat meninggal dunia, wajah Azwar dalam keadaan lebam dan luka. Ini di indikasi dikarenakan kekerasan fisik yang terjadi terhadap Azwar.

Kejanggalan lainnya adalah hasil visum dari laboratorium yang menyatakan bahwa tidak ada luka atau lecet pada lubang pelepas korban. Hal ini membuktikan bahwa tuduhan kekerasan seksual yang dilakukan terhadap korban hingga berkali-kali tidak mungkin terjadi. Ditambah lagi Herpes yang ada pada korban bukanlah herpes yang berasal dari penyakit kelamin.

Hal ini menunjukkan bahwa aparat Polri terbukti masih belum mampu bekerja secara profesional dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai penegak hukum. Sangat disayangkan apabila pihak kepolisian masih menggunakan pendekatan kekerasan dalam proses penyidikan. Hal ini akan berimbas semakin tingginya tingkat kriminalisasi terutama bagi masyarakat yang buta akan hukum dan tidak memiliki perlindungan hukum yang kuat.


Kontras Menemukan Banyak Kejanggalan Dalam Kasus JIS Kontras Menemukan Banyak Kejanggalan Dalam Kasus JIS Reviewed by Antitesa on November 05, 2014 Rating: 5

No comments:

Home Ads

Powered by Blogger.