Anak adalah tumpuan harapan ibu. Segala
impian terbaik tertumpah pada dirinya. Bahkan hampir semua ibu menginginkan
agar buah hati mereka mendapatkan apa pun yang lebih baik daripada dirinya, tak
peduli harus membanting tulang dan memeras keringat sepanjang siang dan malam.
Dan tak seorang pun ibu yang menginginkan putra-putri mereka “salah asuhan”..
Begitu juga dengan ibu-ibu, yang
kemudian kita sebut dengan Moms JIS, yang menyekolahkan putra-putri mereka
di Jakarta International School yang sekarang berubah menjadi Jakarta
Intercultural School. Sejak berita tentang pelecehan seksual yang menimpa salah
seorang murid taman kanak-kanak JIS mencuat, dan menyebut-nyebut JIS sebagai
sarang paedofilia, para Moms inilah orang yang paling panik. Mereka sibuk
mencari informasi, benarkah kejadian itu? Bila benar, mereka tentu harus
menyelamatkan anak-anak mereka untuk dipindahkan dari sekolah yang menjadi
tempat terkutuk itu ke sekolah lainnya. Ibu mana yang menginginkan anaknya
berada di tempat yang tidak tepat seperti itu?
Namun seiring dengan berjalannya waktu,
muncul banyak keanehan dan kejanggalan dari kasus ini. Pertama, mereka tidak
yakin dengan orang-orang yang dituduh sebagai pelaku, melakukan kejahatan keji
itu. Dua orang yang dituduh sebagai pelaku itu adalah sosok yang familiar bagi
mereka, yang banyak sekali berjasa bagi anak-anak muridnya. Mereka mengenal
kedua orang itu, Neil Bantlemen dan Ferdinand Tjiong, sebagai orang yang berkepribadian
baik dan berintegritas yang tinggi.
Kedua, dalam sebuah pertemuan orangtua
murid yang digelar oleh ibu korban itu sendiri yang berinisilan TPW, di sebuah
rumah orangtua murid di Jakarta. Dalam pertemuan tersebut si ibu dengan
gamblang menceritakan bagaimana proses pelecehan seksual itu kepada anaknya,
tanpa ada rasa sedih sedikitpun, sebagaimana seorang ibu yang merasa tersakiti
tatkala anaknya disakiti. Si ibu ini justru berbicara dengan penuh semangat,
berapi-api.
Ketiga, para moms JIS ini tak pernah
melihat sang ibu korban yang pertama di sekolah. Moms tak pernah melihat TPW
mengantarkan putranya, MAK. Datang dan pulang sekolah, MAK ditemani oleh
pengasuhnya. Karena itu, bagaimana mungkinTPW mengetahui dengan detail
peristiwa pelecehan seksual tersebut. TPW tentunya mendengar cerita tersebut
dari putranya yang saat itu masih berusia 5 tahun. Sementara anak tersebut
ceritanya selalu berubah-ubah.
Sementara ibu kedua yang berinisial D,
ibunda dari AL, berbanding terbalik dengan TPW. D adalah ibu yang hampir setiap
hari berada di sekolah menemani putranya. Bahkan ia pernah masuk ke dalam
kelas, melihat secara langsung bagaimana putranya belajar. Karena itu, para
Moms JIS ini sangat familiar dengan D, dan sangat mengherankan bila tiba-tiba D
menyatakan putranya pun mengalami hal serupa dengan MAK, dan itu dilakukan oleh
guru. D setiap hari di sekolah, maka bagaimana D bisa kecolongan atau tidak
tahu saat putranya mengalami pelecehan seksual. Ini adalah hal yang tidak masuk
akal.
Para Moms ini pun tidak sekali dua kali memergoki ibu TPW
dan putranya MAK sedang berjalan-jalan di mall. Padahal sebelumnya, sang ibu
mengatakan kepada publik bahwa sang putra tidak mau memakai celana karena
merasa sakit dan tidak nyaman...
Ibu-ibu ini merasa sangat marah dan kecewa dengan adanya
tuduhan terhadap sekolah di mana putra-putrinya belajar, sebagai sarang
kejahatan kekerasan seksual kepada anak. Guru-guru yang sangat berjasa kepada
pendidikan putra-putrinya yang seharusnya
mendapat penghormatan dan penghargaan, justru sebaliknya, dihina dan dibuat
menderita lahir batin. Begitu juga dengan para petugas kebersihan itu, yang
pastinya menderita lahir batin akibat tuduhan yang secara serampangan ditujukan
itu.
Para Moms ini pun
secara pro aktif mendukung dibebaskannya Neil dan Ferdi dan juga 5 petugas
kebersihan itu. Di setiap persidangan, mereka selalu hadir. Mereka menggelar
spanduk dan mengenakan kaos bertuliskan #tolakrekayasaJIS, #freeneil&ferdi.
Kepada keluarga terdakwa, mereka mensupport secara moril maupun materiil. Sejak adanya kasus ini, tercipta sebuah
ikatan yang sangat baik antara para Moms dengan keluarga terdakwa.
Dukungan ini bukan karena mereka ada yang membayar, tapi
para Moms ini tergerak hati nuraninya melihat kejahatan dan ketidak adilan
terhadap instutusi JIS dan para terdakwa. Mereka melihat adanya ketidakbenaran
yang mengakibatkan oranglain menderita. (BERSAMBUNG...)
Soal Tuduhan JIS adalah Sarang Paedofilia: Inilah Curahan Hati Moms JIS
Reviewed by Antitesa
on
January 16, 2015
Rating:
Reviewed by Antitesa
on
January 16, 2015
Rating:

No comments: