Facebook SDK

banner image

KASUS JAKARTA INTERCULTURAL SCHOOL (JIS) SIAPA YANG BENAR & SALAH ?



Masalah mengenai persidangan gugatan perdata terhadap Jakarta Intercultural School (JIS) , menurut saya sangat rumit sebab, masalah ini berangsur sangat lama dan kurangnya bukti-bukti yang mendukung terhadap masalah ini sehingga menyebabkan masalah yang tak kunjung ada akhirnya. Jika memang terbukti adanya sodomi dari pihak pihak yang terkait maka, korban pun akan mengalami gejala-gejala yang membuktikan bahkan korban benar benar mengalami sodomi yang katanya di lakukan oleh 8 orang pegawai kebersihan sekolah.
Jika memang masalah ini benar adanya maka , harus di lengkapi dengan bukti yang jelas dan nyata sehingga masalah ini bisa berjalan dengan baik dan yang salah akan terlihat dengan jelas siapa. Namun, kasus ini kurang adanya bukti sehingga menyebabkan masalah yang berangsur lama dan bahkan tidak ada jalan keluar yang dapat menyelesaikan masalah ini. Ada beberapa bukti hasil laboratorium, menurut Profesor Baird, hasil tes IgG kedua negative yang dilakukan empat bulan setelag tes pertama menunjukkan bahwa MAK tidak terinfeksi HSV-2. Pada tanggal 7 April 2015, beliau memberikan kesaksian pada sidang perdata JIS sebagai berikut, “MAK tidak terinfeksi herpes geital atau infeksi penyakit menular seksual lainnya,” dengan menggunakan hasil tes laboratorium RS Bhayangkara sebagai dasar pernyataannya. Profesor Baird menyatakan, “Kedua hasil laporan laboratorium di bulan Maret dan Juli mengklarifikasi bahwa MAK tidak terinfeksi HSV-2 yang artinya tidak mengidap herpes genital. Hal itu merupakan sebuah fakta bukan opini. 
Di kesempatan yang sama, Dokter ahli bidang forensik, dr Ferryal Basbeth menyatakan, dari hasil kesimpulan akhir yang dijadikan bukti ke persidangan, membuktikan bahwa kasus ini direkayasa sejak awal, jadi kita bisa melihat kasus ini dengan jelas dengan bukti yang sudah ada berdasarkan fakta bukan rekayasa sehingga kita dapat menyimpulkan siapa yang salah dalam masalah ini.
Sebelum orang tua korban membawa kasus ini ke ranah hukum seharunya dilangkapi dengan bukti  hasil tes atau lab yang menyatakan kebenaran adanya perilaku sodomi pada dua orang siswa dari Jakarta Intercultural School (JIS) yang di lakukan oleh pihak pihak yang terkait serta di lengkapi dengan saksi yang melihat atau mendengar kejadian tersebut.
Selain itu bila pelaku sodomi memiliki penyakit herpes, maka korban sodomi pasti akan tertular. Kevin Baird juga mendukung langkah dr Lutfi dari RS Pondok Indah, “Herpes tidak menyebabkan nanah dan MAK tidak didiagnosa dengan infeksi herpes pada saat itu maupun diberikan pengobatan untuk mengatasi herpes. Berdasarkan resep dr Lutfi yaitu flagyl menunjukkan dignosa klinis akan adanya amoba yang menyebabkan proctitis. Dalam kesaksiannya di kasus perdata, Prof. Baird memebenarkan diagnosa Dr Lutfi yang terbukti efektif terlihat dari setelah empat hari MAK menjalani pengobatan dan kembali ke klinik ternyata tidak ditemukan prockitis dan ia terbukti sembuh. “Flagyl terbukti menghilangkan gejala dan keluhan. Kalau benar ia terkena herpes, gonorrhea atau chlamydia tidak bisa sembuh dengan flagyl,” tegasnya.





KASUS JAKARTA INTERCULTURAL SCHOOL (JIS) SIAPA YANG BENAR & SALAH ?  KASUS JAKARTA INTERCULTURAL SCHOOL  (JIS) SIAPA YANG BENAR & SALAH  ? Reviewed by Antitesa on June 03, 2015 Rating: 5

No comments:

Home Ads

Powered by Blogger.