Keluarga adalah tempatnya untuk berlindung bagi anak-anak dari potensi
bahaya yang ada di luar. Namun jika potensi tersebut terjadi sebaliknya membuat
masa depan anak terancam. Maka tidak ada lagi tempat untuk sang anak
terlindungi dari tindak kekerasan. Seperti yang terjadi baru-baru ini kasus
Angeline yang menyita banyak perhatian masyarakat luas, bahkan sampai ke berita
internasional.
Kasus ini berkembang dari pelaku kekerasan terhadap anak sampai pelaku
pembunuhan dan yang lebih mengejutkan lagi, Ibu angkat Angeline pun menjadi
tersangka dengan motif harta warisan. seperti diketahui sebelumnya Ibu angkat Angeline
mengklaim dan melaporkan bahwa Angeline telah menghilang, namun tidak lama pihak
penyidik dari kepolisian menemukan tubuh Angeline yang tak bernyawa di belakang
pekarangan rumah. Dalam laporan kepada media, Siti Sapurah mengatakan “Anak
selalu menjadi korban dari perlakuan orang tua yang seharusnya melindunginya.
Sejak awal saya sudah berpikir negatif. Anak ini (Angeline) sengaja
dihilangkan. Ada sesuatu yang direncanakan rapi,” kata Siti kepada CNN
Indonesia, Kamis 11 Juni. Kasus ini masih dalam penyidikan, namun dari banyak
kalangan dan juga pemerintah masih mengikuti perkembangan kasus ini.
Kasus kekerasan lainnya ialah kasus yang menimpa anak GT (12) yang telah disiksa oleh Ibu kandungnya
dengan gergaji, "Masih dalam penyelidikan apakah bekas digergaji seperti
yang diberitakan atau bekas lain," terang Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan,
AKBP Audie Latuheru, pada 4 Juli 2015 lalu.
Menurut Rio mantan ketua rukun tetangga (RT), kekerasan pada anak kandung
tersebut terjadi sudah berlangsung satu tahun lamanya, "Tahun lalu sempat
alami panganiayaan, tapi kami sebagai tetangga tidak berani ambil tindakan,
tahu sendiri seperti yang tersebar di media, orang di belakangnya (bekingan)
LSR ini yang banyak membuat warga takut. Makanya kita berpikir dua kali untuk
melaporkan dia," tutur Rio menjelaskan.
GT (12) pernah bercerita kepada FB bahwa Ibu kandungnya pernah melukai
bagian tangannya dengan gergaji, disundut dengan rokok dan diminta mengenggam
baygon bagar dan juga kekerasan lainnya yang dilakukan oleh Ibu kandungnya
sendiri.
Saat ini GT(12)i, sudah berada di rumah yang aman milik kementrian sosial
di kawasan Jakarta Utara. Kasus ini masih dalam proses penyelidikan.
Lain halnya dengan kasus JIS
(Jakarta Intercultural School) yang sempat heboh tahun lalu, yakni
tuduhan atas kekerasan seksual terhadap anak kepada 6 cleaning service dan dua
orang Guru JIS, namun seiringnya waktu bergulir kejanggalan-kejanggalan
pengadaan bukti mulai terungkap, banyaknya kejanggalan cacatan medis yang
sempat dikemukakan oleh Dokter ahli Forensik Dr Ferryal bahwa tidak adanya
bukti kuat secara medis atas tuduhan tersebut, juga Dr Lutfi pernah memberikan
pernyataan bahwa tidak adana indikasi bahwa anak korban memiliki penyakit atas
apa yang telah diklaim oleh Ibu MAK kepada anaknya. Diketahui Ibu kandung
memiliki motif tuntutan uang sebesar 125 juta USD dari sekolah bertaraf
internasional tersebut. Jika terbukti bahwa Ibu MAK telah mempergunakan anaknya
sebagai objek atas dasar uang. Maka masa depan MAK pun akan terancam karena
false memory yang diberikan oleh Ibunya dan psikologis sang anak di ruang
lingkup sosialnya nanti.
Jika ini terbukti di pengadilan banding nanti bahwa para tersangka yang
telah dituduhkan oleh Ibu MAK tidak bersalah, maka akan menambah sederet
kekerasan terhadap anak juga kriminalisasi hukum pada semua terdakwa. Kasus ini
pun masih dalam proses penyelidikan dan akan ditindak lebih lanjut ke tingkat
pengadilan yang lebih tinggi.
Ketika Keluarga Tak lagi Melindungi Masa Depan Anak
Reviewed by Antitesa
on
July 09, 2015
Rating:
Reviewed by Antitesa
on
July 09, 2015
Rating:

No comments: