JAKARTA - Sidang dugaan kasus kekerasan seksual yang melibatkan dua guru di Jakarta International School (JIS), melahirkan banyak kejutan dari kesaksian DA, salah satu korban yang juga mantan siswa TK JIS.
Melalui teleconference, DA menyampaikan berbagai informasi yang janggal dan aneh dari peristiwa ini. Henock Siahaan, pengacara Neil Bantleman dan Ferdinant Tjong, mengungkapkan, keterangan DA terkait lokasi kejadian selalu berubah-ubah dan tidak sesuai BAP polisi.
Awalnya DA mengaku mengalami sodomi di toilet, lalu di kelas dan kemudian di lantai dua TK JIS. "Korban tidak konsisten tentang tempat kejadian kadang menjawab di toilet, tetapi kadang menjawab di lantai dua atau di kelas. Padahal di BAP tertulis hanya di toilet," kata Hennock, Rabu (31/12/2014).
Kejanggalan lain, DA menyebut para pelaku sodomi memiliki tato gambar tengkorak di tangan dan punggung. Sementara Neil dan Ferdy bersih dari tato-tato yang disebutkan.
Hennock juga melihat hal aneh ketika DA memberikan keterangan. Selama mengikuti teleconference, wajah DA tidak menunjukkan ketakutan atau trauma. Bahkan, DA mengaku tetap sering ke toilet bersama dengan AL dan MAK yang di BAP ditulis juga menjadi korban. Ketiganya juga tetap bermain bersama baik di kelas maupun di halaman, meskipun baru mengalami dugaan pelecehan seksual.
"Logikanya kalau memang terjadi peristiwa sodomi, korban pasti takut untuk balik ke sekolah," jelas Henock.
Sebelumnya dalam kesaksian pada kasus sama yang melibatkan pekerja kebersihan, pakar psikologi anak Seto Mulyadi menegaskan bahwa, karena faktor trauma tidak akan mungkin korban sodomi akan kembali ke tempat kejadian. Apalagi kasus ini menimpa anak usia 6 tahun.
Dalam kesempatan berbeda, OA ayah dari DA, diminta menjadi saksi lantaran dialah yang menyebut nama Neil dan Ferdi ke DA sebagai pelaku sodomi. Padahal sesuai keterangan DA, si anak hanya mengatakan pelakunya bertato gambar tengkorak di tangan dan punggung.
Hennock mengatakan, OA lebih banyak memberikan informasi yang tidak sesuai dengan pertanyaan hakim. OA bahkan tidak mengetahui aktivitas sehari-hari anaknya tersebut.
"Kesaksian DA dan ayahnya hari ini semakin memperlihatkan betapa lemahnya kasus ini. Mereka menetapkan orang sebagai pelaku kejahatan tanpa fakta dan bukti yang nyata. Kasus ini benar-benar mengancam penegakan hukum di Indonesia," tegas Mahareksha Dillon, kuasa hukum dua guru yang lain.
Dalam sidang sebelumnya, korban lainnya yaitu AL, mengaku dirinya senang bermain bersama teman-temannya di sekolah. Si anak juga mengungkapkan bahwa ibunya ikut mengajar di kelasnya dan sering berada di sekolah. Si anak tiap hari diantar dan dijemput oleh ibu, suster atau ayahnya.
"Jadi mustahil jika diantar jemput oleh ayah dan ibunya tiap hari, mereka tidak mengetahui ada sodomi terhadap si anak," tegas Mahareksha.
Mahareksha menegaskan, keterangan anak tidak bisa dijadikan alat bukti berdasarkan KUHAP. Apalagi pada saat menjawab pertanyaan dari jaksa, di persidangan anak banyak mengatakan lupa, tidak tahu, dan tidak ingat.
Source : http://news.okezone.com/read/2014/12/31/338/1086431/keterangan-korban-kaburkan-dakwaan-dua-guru-jis
Keterangan Korban Kaburkan Dakwaan Dua Guru JIS
Reviewed by Antitesa
on
January 06, 2015
Rating:
No comments: