Inilah testimoni
beberapa ibu-ibu orangtua murid Jakarta International School (JIS) yang
selanjutnya kita sebut saja Mom’s, berkaitan dengan dugaan kasus pelecehan
seksual yang menimpa seorang murid taman kanak-kanak JIS. Mom’s ini memberikan
support atau dukungan justru kepada terdakwa dan keluarganya, yaitu para
petugas kebersihan di JIS dan dua guru JIS, Neil Bantlemen dan Ferdinand Tjiong,
bukan korban yang berinisial MAK dan AL dan keluarganya. Mengapa?
Silakan simak....
Moms Ica
Anak saya sudah 6
tahun sekolah di JIS. Saya menitipkan anak saya di JIS karena saya tahu kualits
sekolah international itu. Dan saya yakin keamanan di sekolah tersebut
terjamin.
Boleh dibilang,
saya ini aktif dalam setiap kegiatan sekolah. Saya sering berada di sekolah.
Karena itu saya menjadi familiar dengan lingkungan sekolah, seperti kepala
sekolah, guru, asisten guru, sampai gardener. Walau tidak dekat secara
personal, tapi saya familiar dengan mereka. Saya tahu persis athmosphere di
sekolah. Karena itu saya tidak percaya kasus pelecehan seksual ini terjadi di
JIS. Saya tahu para petugas kebersihan itu, dan saya juga mengenal guru-guru
yang dituduh melakukan pelecehan seksual itu.
Neil, walau tidak
dekat, ia adalah salah seorang yang mempunyai integritas yang tinggi. Dia orang
yang paling baik, tidak pernah macam-macam. Dialah salah seorang yang membuat
sekolah ini mempunyai hubungan atau ikatan yang baik dengan lembaga-lembaga di
luar sekolah, seperti Sekolah Kami di Pejaten. Neil-lah yang mengorganisir
kegiatan-kegiatan sosial JIS ini.
Neil juga
mempelopori gerakan daur ulang di sekolah dengan progam Green Garden. Beliau
mengadakan semacam a ward untuk
merangsang anak-anak melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk lingkungan hidup
di sekitarnya.
Sementara Ferdi,
secara pribadi saya mengenalnya, walau tidak terlalu dekat. Beliau sudah 17
tahun bekerja di JIS. Kami percaya dia orang baik, tak mungkin melakukan hal
yang dituduhkan itu, karena kami tahu orang-orang yg bekerja di JIS, sangat
berdedikasi terhadap pekerjaan dan terhadap anak didik masing-masing. Pak Ferdi
sangat bertanggung jawab terhadap anak-anak yang menjadi tanggungjawabnya.
Moms Lorry
Saya kenal Pak
Ferdi sejak 17 tahun yang lalu, ketika
ia memulai karir di JIS. Ketika itu ia masih single. Ia bekerja sebagai asisten
guru. Saya kenal sosok beliau sebagai orang yang sangat baik dan tegas. Ia
menangani anak dengan sangat baik. Kebetulan anak saya diajar Pak Ferdi. Dia
termasuk guru favorit. Dia bersedia membantu semua guru di sekolah di segala
macam aspek. Kadang ada anak yang tidak mau dihandle gurunya, misalnya ia
nakal, menangis, dan gurunya tidak mampu menanganinya, maka ketika Pak Ferdi
mencoba menghandlenya, anak itu mau. Pak Ferdi tidak hanya membantu guru di
kelasnya saja, tapi juga guru kelas lain. Dia ga’ punya waktu buat
bersantai-santai di sekolah. Kadang makan siang pun sudah telat. Setelah
anak-anak pulang, dia baru bisa ngopi dan makan.
Sebagai orangtua,
saya sering curhat sama Pak Ferdi mengenai anak saya. Bukan saya saja, tapi
banyak orangtua lain yang sering curhat sama Pak Ferdi mengenai anak-anak
mereka. Sungguh, Pak Ferdi sangat membantu. Dia guru yang disayangi dan
dihormati oleh murid-murid dan juga orangtua murid. Ia selalu mempunyai senyum
untuk semua orang. Karena itu, saya sangat sedih ketika ia dituduh melakukan
hal sekeji itu. Saya gak bisa percaya ia mampu melakukan hal buruk tersebut kepada
seorang anak. Gak mungkin!
Moms Ayu
Kalau sudah
ngomong sama Pak Ferdi, baru kita bisa merasakan seperti apa Pak Ferdi itu.
Menurut saya, dia itu sempurna, punya kehidupan yang sempurna. Kehidupannya
sendiri sederhana tapi sempurna.
Waktu dia masih
menjadi tahanan Polda Metro Jaya, ketika itu saya mendampingi istrinya, Siska,
Pak Ferdi berkata kepada Siska, “Doain saya. Kamu juga mesti doain ibu-ibu yang
menuduh kita. Kita doain supaya mereka bisa berjalan di jalan yang benar.”
Ketika itu Siska
menangis. Pak Ferdi mengatakan hal tersebut sambil menenangkan istrinya. Dari
situ saya sangat terharu. Pak Ferdi menunjukkan kepada kita dia itu orang yang
sangat baik. Tidak ada keinginan dalam dirinya untuk membalas dendam terhadap
orang yang telah menyakitinya dan juga keluarganya, meski sekarang ini
kehidupan keluarganya hancur. Anak Pak Ferdi ada dua, semuanya perempuan dan
masih kecil-kecil. Tuduhan ini benar-benar telah membuat keluarga yang sempuna
ini hancur.
Saya sering
berada di sekolah. Tuduhan yang dilancarkan oleh ibu TPW dan Ibu D ini sangat
tidak berdasar. Di sekolah kami, satu guru dan satu orang asisten guru hanya
bertanggungjawan terhadap satu kelas. Pak Ferdi itu bertanggung jawab terhadap
kelas 1 SD. Sementara anak yang diduga menjadi korban pelecehan seksual itu
adalah anak kelas TK.
Saya bicara
sebagai parent. Gak mungkin banget hal itu dilakukan oleh Pak Ferdi. Apalagi
kejadiannya pas jam makan siang, di mana Pak Ferdi pun sibuk mengurus anak-anak
di kelasnya. Ia membawa mereka ke cafetaria untuk makan siang. Gak mungkin
banget Pak Ferdi meninggalkan anak kelasnya dan pergi ke tempat lain untuk
melakukan hal keji itu.
Satu Fakta lagi,
di awal-awal kasus ini mencuat, saya pernah mendatangi rumah Ibu TPW untuk
mensupport Ibu TPW dan juga putranya. Tapi, saya sungguh terkejut. saya
bukannya disambut, tapi ia berusaha merekrut saya kita, memprovokasi saya.
Kemudian ia bercerita dengan vulgarnya
bagaimana anaknya disodomi. Ia mempraktikkannya, seakan-akan ia melihat dengan
mata kepalanya sendiri. Padahal, ia menceritakan hal itu berdasarkan perkataan
anaknya.
Sementara ia
bercerita, anaknya berjalan-jalan, wara wiri di belakangnya seakan tidak pernah
terjadi apa-apa. Padahal sebelumnya ia mengatakan, anaknya gak mau pakai celana
karena sakit.
Ia bercerita
dengan vulgarnya, sampai-sampai suaminya mencolek-colek tangannya,
mengingatkannya untuk tidak berlebihan.
Saya dulu ga mau
anak saya sekolah di JIS. Takut asing banget. Tapi akhirnya saya mencoba. Begitu
sudah diterima, ternyata apa yang saya pikirkan itu salah.
Saya gak pernah
lihat sekolah internasional manapun yang mencintai Indonesia seperti JIS. Yang
diajari JIS kepada murid-muridnya adalah bagaimana mencintai Indonesia.
Contohnya saja
anak saya 4 tahun. Sepuplang sekolah dia bertanya kepada saya, “Mama, apakah
mama tahu siapa itu Nyoman Gunarsa?”
Saya
terheran-heran, bagaimana mungkin anak 4 tahun bertanya Nyoman Gunarsa, sang
pelukis yang sudah maestro itu.
Ternyata, anak
saya punya project melukis dengan ukuran sebesar anak saya. Dia melukis dengan
gaya Nyoman Gunarsa. Saya pun terkagum-kagum. Dan anak saya itu sangat
bangganya bisa melukis dengan gaya Nyoman Gunarsa. Jadi, di JIS, anak-anak
diajari untuk menghargai kebudayaan Indonesia.
JIS punya 60
comunity service, dan ini signifikan, karena mempunyai giving back progmame,
caracter buildingnya kuat, rasa sosial, dan bertanggungjawab terhadap
lingkungan sekitar. Ya, tadinya saya ga mau di JIS, tapi skrng membela banget.
Saya sangat membela para cleaners, karena saya tahu mereka. Saya juga membela
Neil dan Ferdi, karena saya juga sangat mengenal mereka. Tidak mungkin
mereka-mereka ini melakukan hal sekeji yang dituduhkan itu...
Moms Mamay
Saya adalah
keluarga yang mix marriage. Karena itu saya memilih sekolah yang harus sesuai
dengan kondisi anak saya yang orangtuanya berasal dari beragam macam suku
bangsa.
Dari semua
sekolah yang ada, pilihan terakhir adalah JIS. Di JIS anak saya bisa bertemu
dengan orang-orang dari beragam bangsa. Ada 70 bangsa. Mana ada sekolah lain
yang di situ murid atau guru-gurunya dari banyak bangsa. Meski mereka berlatar
belakang bangsa yang berbeda-beda namun sungguh sangat membanggakan, mereka
tidak lupa dengan kebudayaan Indonesia. JIS sangat menghargai kultur bangsa
Indonesia, termasuk agama. Di sini pegawainya banyak yang pakai jilbab, ada
juga yang memakai singh (sorban khas India). Semuanya dihargai, tapi semuanya
tetap kompak. Begitu juga dengan orangtua-orangtua murid, meski kami berbeda,
tapi kami kompak dan sangat menghargai Indonesia. Saya merasa di JIS ini my
second home. Kebetulan anak saya juga happy sekali sekolah di sini.
Sampai terus ada
berita ini keluar, saya rasanya mau
pingsan, pikiran buruk saya tentang JIS terus bermunculan. Akhirnya saya dapat
sms dari orangtua murid lain untuk bertemu, berkumpul bersama orangtua korban,
di satu rumah orangtua murid di kawasan Pondok Indah, Jakarta.
Ketika saya ke
rumah itu, sudah banyak orangtua murid lain yang hadir, sekitar 150 orang
ibu-ibu dan bapak-bapak. Di situ suasananya berdrama banget. Saya sering melihat pasien psikologi. Karena
itu, ketika saya melihat sang ibu korban berbicara, saya melihat tidak ada ekspresi
sedih sedikit pun.
Seorang ibu yang
punya anak baru diperkosa kemarin, diperkosa berulang kali, bercerita dengan
runut, jelas, sampai memperagakan bagaimana tindakan pelecehan seksual itu
dilakukan, tanpa ada setetespun air mata keluar dari matanya. Sementara itu
hampir semua orangtua murid yang hadir yang mendengar ceritanya ibu korban itu
menahan napas. Ngeri bercampur takut, sampai-sampai ada yang mau pingsan. Saya
sering melihat pasien psikolog. Karena itu saya berpendapat bahwa gak ada
seorang ibu pun yang sanggup menceritakan kejadian itu dengan begitu runut dan
detail, bahkan tanpa mengeluarkan setetes air mata pun. Tapi itu korban itu kok
bisa ya. Anaknya masih kecil lagi. Dari situ saya curiga, pasti ada sesuatu
yang tidak beres.
Bayangkan,
seorang perempuan saja yang memang sudah mempunyai alat untuk bersenggama, jika
diperkosa berulang kali oleh beberapa orang saja bisa pingsan. Apalagi jika ini
menimpa anak kecil laki-laki yang baru berusia 5 tahun. Karena saya sebagai ibu
yang menyekolahkan anak di JIS, saya mengikuti terus perkembangan kasus ini.
Dan cerita yang dikemukakan oleh sang ibu korban ini pun berubah-ubah. Feeling
saya , ini ada yang gak bener. Its all
about the money.
Ini semua tentang
uang. Suami saya pernah mengingatkan saya untuk tidak berbicara dan berprasangka
seperti itu. Namun sekarang ternyata terbukti. Awalnya, ketika si ibu korban
menjerat para petugas cleaners, ia mengajukan tuntutan perdata sebesar USD $ 12
juta. Tapi setelah berhasil menjerat dua guru JIS, tuntutannya naik menjadi USD
$ 120 juta.
Rasanya agak
lucu, kok menuntut segitu banyaknya, sedangkan saya tahu persis, pihak
sekolah-lah yang pertama kali membawa anak ini ke dokter, menawari konseling,
dan menutup kasusnya rapat-rapat sesuai dengan permintaan ibu korban sendiri.
Tapi ternyata, yang
membongkar kasus ini kepada media, si ibu sendiri. Kepada kami, orangtua murid,
si ibu korban mengatakan bahwa orang yang memperkosa anaknya bertubuh tinggi
besar dan hitam.
Tapi begitu di
televisi, si ibu mengatakan yang memperkosa anaknya berambut pirang dan bermata
biru.
Dari situ aja
udah tidak benar. Karena itu saya tergerak untuk memindahkan anak saya ke
sekolah lain. Namun apa daya, anak saya tidak mau dipidahkan, sampai ia
menangis-nangis. Rupanya ia happy di sekolah ini. Karena itu, saya berpikir,
untuk ikut membela sekolah ini. Sebab, kalau bukan saya yang membela sekolah
ini, siapa lagi? Kami, ibu-ibu orangtua murid, kompak untuk melakukan sesuatu
demi kebaikan sekolah ini.
Moms Joice
JIS, kesannya
memang tertutup dan arogan. Tapi, cobalah lihat lebih dekat. JIS melakukan ini
karena itu menjaga privatisasi para murid, sesuai dengan permintaan para
orangtua murid sendiri.
JIS mempunyai
kepedulian sosial yang tinggi, mereka mengajarkan kepada para murid untuk
memiliki sensitivitas terhadap lingkungan sekitar mereka. Mereka diajarkan
untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan hidup sekitar mereka,
terutama orang-orang yang gak mampu. Mereka belajar menyumbangkan apa saja yang
bisa mereka berikan untuk lingkungan sekitar mereka yang kekurangan.
Dan Neil adalah
salah satu koordinator program sosial JIS. Neil salah satu koordinator sosial,,
dia jarang berinteraksi anak. Dia salah atu
inspirator jakarta clean. Dia lebih cinta indonesia. Dan satu lagi, dia
jarang berinteraksi dengan anak-anak. Karena itu, kita benar-benar gak rela
jika Neil dan juga JIS, dituduh dengan tuduhan sekeji itu...
Source : http://antitesanews.com/news/politik/21-01-2015/100-testimoni-ibu-ibu-orangtua-murid-jis-mengapa-saya-membela-terdakwa-jis-bukan-korban
Testimoni Ibu-ibu Orangtua Murid JIS Mengapa Saya Membela Terdakwa JIS, Bukan Korban
Reviewed by Antitesa
on
January 21, 2015
Rating:
Reviewed by Antitesa
on
January 21, 2015
Rating:

No comments: