Facebook SDK

banner image

Testimoni Ibu-ibu Orangtua Murid JIS Mengapa Saya Membela Terdakwa JIS, Bukan Korban





Inilah testimoni beberapa ibu-ibu orangtua murid Jakarta International School (JIS) yang selanjutnya kita sebut saja Mom’s, berkaitan dengan dugaan kasus pelecehan seksual yang menimpa seorang murid taman kanak-kanak JIS. Mom’s ini memberikan support atau dukungan justru kepada terdakwa dan keluarganya, yaitu para petugas kebersihan di JIS dan dua guru JIS, Neil Bantlemen dan Ferdinand Tjiong, bukan korban yang berinisial MAK dan AL dan keluarganya. Mengapa?

Silakan simak....


Moms Ica

Anak saya sudah 6 tahun sekolah di JIS. Saya menitipkan anak saya di JIS karena saya tahu kualits sekolah international itu. Dan saya yakin keamanan di sekolah tersebut terjamin.

Boleh dibilang, saya ini aktif dalam setiap kegiatan sekolah. Saya sering berada di sekolah. Karena itu saya menjadi familiar dengan lingkungan sekolah, seperti kepala sekolah, guru, asisten guru, sampai gardener. Walau tidak dekat secara personal, tapi saya familiar dengan mereka. Saya tahu persis athmosphere di sekolah. Karena itu saya tidak percaya kasus pelecehan seksual ini terjadi di JIS. Saya tahu para petugas kebersihan itu, dan saya juga mengenal guru-guru yang dituduh melakukan pelecehan seksual itu.

Neil, walau tidak dekat, ia adalah salah seorang yang mempunyai integritas yang tinggi. Dia orang yang paling baik, tidak pernah macam-macam. Dialah salah seorang yang membuat sekolah ini mempunyai hubungan atau ikatan yang baik dengan lembaga-lembaga di luar sekolah, seperti Sekolah Kami di Pejaten. Neil-lah yang mengorganisir kegiatan-kegiatan sosial JIS ini.

Neil juga mempelopori gerakan daur ulang di sekolah dengan progam Green Garden. Beliau mengadakan semacam a ward untuk merangsang anak-anak melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk lingkungan hidup di sekitarnya.

Sementara Ferdi, secara pribadi saya mengenalnya, walau tidak terlalu dekat. Beliau sudah 17 tahun bekerja di JIS. Kami percaya dia orang baik, tak mungkin melakukan hal yang dituduhkan itu, karena kami tahu orang-orang yg bekerja di JIS, sangat berdedikasi terhadap pekerjaan dan terhadap anak didik masing-masing. Pak Ferdi sangat bertanggung jawab terhadap anak-anak yang menjadi tanggungjawabnya.



Moms Lorry

Saya kenal Pak Ferdi sejak  17 tahun yang lalu, ketika ia memulai karir di JIS. Ketika itu ia masih single. Ia bekerja sebagai asisten guru. Saya kenal sosok beliau sebagai orang yang sangat baik dan tegas. Ia menangani anak dengan sangat baik. Kebetulan anak saya diajar Pak Ferdi. Dia termasuk guru favorit. Dia bersedia membantu semua guru di sekolah di segala macam aspek. Kadang ada anak yang tidak mau dihandle gurunya, misalnya ia nakal, menangis, dan gurunya tidak mampu menanganinya, maka ketika Pak Ferdi mencoba menghandlenya, anak itu mau. Pak Ferdi tidak hanya membantu guru di kelasnya saja, tapi juga guru kelas lain. Dia ga’ punya waktu buat bersantai-santai di sekolah. Kadang makan siang pun sudah telat. Setelah anak-anak pulang, dia baru bisa ngopi dan makan.

Sebagai orangtua, saya sering curhat sama Pak Ferdi mengenai anak saya. Bukan saya saja, tapi banyak orangtua lain yang sering curhat sama Pak Ferdi mengenai anak-anak mereka. Sungguh, Pak Ferdi sangat membantu. Dia guru yang disayangi dan dihormati oleh murid-murid dan juga orangtua murid. Ia selalu mempunyai senyum untuk semua orang. Karena itu, saya sangat sedih ketika ia dituduh melakukan hal sekeji itu. Saya gak bisa percaya ia mampu melakukan hal buruk tersebut kepada seorang anak. Gak mungkin!



Moms Ayu


Kalau sudah ngomong sama Pak Ferdi, baru kita bisa merasakan seperti apa Pak Ferdi itu. Menurut saya, dia itu sempurna, punya kehidupan yang sempurna. Kehidupannya sendiri sederhana tapi sempurna.

Waktu dia masih menjadi tahanan Polda Metro Jaya, ketika itu saya mendampingi istrinya, Siska, Pak Ferdi berkata kepada Siska, “Doain saya. Kamu juga mesti doain ibu-ibu yang menuduh kita. Kita doain supaya mereka bisa berjalan di jalan yang benar.”

Ketika itu Siska menangis. Pak Ferdi mengatakan hal tersebut sambil menenangkan istrinya. Dari situ saya sangat terharu. Pak Ferdi menunjukkan kepada kita dia itu orang yang sangat baik. Tidak ada keinginan dalam dirinya untuk membalas dendam terhadap orang yang telah menyakitinya dan juga keluarganya, meski sekarang ini kehidupan keluarganya hancur. Anak Pak Ferdi ada dua, semuanya perempuan dan masih kecil-kecil. Tuduhan ini benar-benar telah membuat keluarga yang sempuna ini hancur.

Saya sering berada di sekolah. Tuduhan yang dilancarkan oleh ibu TPW dan Ibu D ini sangat tidak berdasar. Di sekolah kami, satu guru dan satu orang asisten guru hanya bertanggungjawan terhadap satu kelas. Pak Ferdi itu bertanggung jawab terhadap kelas 1 SD. Sementara anak yang diduga menjadi korban pelecehan seksual itu adalah anak kelas TK.

Saya bicara sebagai parent. Gak mungkin banget hal itu dilakukan oleh Pak Ferdi. Apalagi kejadiannya pas jam makan siang, di mana Pak Ferdi pun sibuk mengurus anak-anak di kelasnya. Ia membawa mereka ke cafetaria untuk makan siang. Gak mungkin banget Pak Ferdi meninggalkan anak kelasnya dan pergi ke tempat lain untuk melakukan hal keji itu.

Satu Fakta lagi, di awal-awal kasus ini mencuat, saya pernah mendatangi rumah Ibu TPW untuk mensupport Ibu TPW dan juga putranya. Tapi, saya sungguh terkejut. saya bukannya disambut, tapi ia berusaha merekrut saya kita, memprovokasi saya. Kemudian ia  bercerita dengan vulgarnya bagaimana anaknya disodomi. Ia mempraktikkannya, seakan-akan ia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Padahal, ia menceritakan hal itu berdasarkan perkataan anaknya.

Sementara ia bercerita, anaknya berjalan-jalan, wara wiri di belakangnya seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Padahal sebelumnya ia mengatakan, anaknya gak mau pakai celana karena sakit.
Ia bercerita dengan vulgarnya, sampai-sampai suaminya mencolek-colek tangannya, mengingatkannya untuk tidak berlebihan.

Saya dulu ga mau anak saya sekolah di JIS. Takut asing banget. Tapi akhirnya saya mencoba. Begitu sudah diterima, ternyata apa yang saya pikirkan itu salah.
Saya gak pernah lihat sekolah internasional manapun yang mencintai Indonesia seperti JIS. Yang diajari JIS kepada murid-muridnya adalah bagaimana mencintai Indonesia.

Contohnya saja anak saya 4 tahun. Sepuplang sekolah dia bertanya kepada saya, “Mama, apakah mama tahu siapa itu Nyoman Gunarsa?”
Saya terheran-heran, bagaimana mungkin anak 4 tahun bertanya Nyoman Gunarsa, sang pelukis yang sudah maestro itu.

Ternyata, anak saya punya project melukis dengan ukuran sebesar anak saya. Dia melukis dengan gaya Nyoman Gunarsa. Saya pun terkagum-kagum. Dan anak saya itu sangat bangganya bisa melukis dengan gaya Nyoman Gunarsa. Jadi, di JIS, anak-anak diajari untuk menghargai kebudayaan Indonesia.

JIS punya 60 comunity service, dan ini signifikan, karena mempunyai giving back progmame, caracter buildingnya kuat, rasa sosial, dan bertanggungjawab terhadap lingkungan sekitar. Ya, tadinya saya ga mau di JIS, tapi skrng membela banget. Saya sangat membela para cleaners, karena saya tahu mereka. Saya juga membela Neil dan Ferdi, karena saya juga sangat mengenal mereka. Tidak mungkin mereka-mereka ini melakukan hal sekeji yang dituduhkan itu...


Moms Mamay

Saya adalah keluarga yang mix marriage. Karena itu saya memilih sekolah yang harus sesuai dengan kondisi anak saya yang orangtuanya berasal dari beragam macam suku bangsa.

Dari semua sekolah yang ada, pilihan terakhir adalah JIS. Di JIS anak saya bisa bertemu dengan orang-orang dari beragam bangsa. Ada 70 bangsa. Mana ada sekolah lain yang di situ murid atau guru-gurunya dari banyak bangsa. Meski mereka berlatar belakang bangsa yang berbeda-beda namun sungguh sangat membanggakan, mereka tidak lupa dengan kebudayaan Indonesia. JIS sangat menghargai kultur bangsa Indonesia, termasuk agama. Di sini pegawainya banyak yang pakai jilbab, ada juga yang memakai singh (sorban khas India). Semuanya dihargai, tapi semuanya tetap kompak. Begitu juga dengan orangtua-orangtua murid, meski kami berbeda, tapi kami kompak dan sangat menghargai Indonesia. Saya merasa di JIS ini my second home. Kebetulan anak saya juga happy sekali sekolah di sini.


Sampai terus ada berita ini keluar, saya rasanya  mau pingsan, pikiran buruk saya tentang JIS terus bermunculan. Akhirnya saya dapat sms dari orangtua murid lain untuk bertemu, berkumpul bersama orangtua korban, di satu rumah orangtua murid di kawasan Pondok Indah, Jakarta.

Ketika saya ke rumah itu, sudah banyak orangtua murid lain yang hadir, sekitar 150 orang ibu-ibu dan bapak-bapak. Di situ suasananya berdrama banget.  Saya sering melihat pasien psikologi. Karena itu, ketika saya melihat sang ibu korban berbicara, saya melihat tidak ada ekspresi sedih sedikit pun.

Seorang ibu yang punya anak baru diperkosa kemarin, diperkosa berulang kali, bercerita dengan runut, jelas, sampai memperagakan bagaimana tindakan pelecehan seksual itu dilakukan, tanpa ada setetespun air mata keluar dari matanya. Sementara itu hampir semua orangtua murid yang hadir yang mendengar ceritanya ibu korban itu menahan napas. Ngeri bercampur takut, sampai-sampai ada yang mau pingsan. Saya sering melihat pasien psikolog. Karena itu saya berpendapat bahwa gak ada seorang ibu pun yang sanggup menceritakan kejadian itu dengan begitu runut dan detail, bahkan tanpa mengeluarkan setetes air mata pun. Tapi itu korban itu kok bisa ya. Anaknya masih kecil lagi. Dari situ saya curiga, pasti ada sesuatu yang tidak beres.

Bayangkan, seorang perempuan saja yang memang sudah mempunyai alat untuk bersenggama, jika diperkosa berulang kali oleh beberapa orang saja bisa pingsan. Apalagi jika ini menimpa anak kecil laki-laki yang baru berusia 5 tahun. Karena saya sebagai ibu yang menyekolahkan anak di JIS, saya mengikuti terus perkembangan kasus ini. Dan cerita yang dikemukakan oleh sang ibu korban ini pun berubah-ubah. Feeling saya , ini ada yang gak bener.  Its all about the money.

Ini semua tentang uang. Suami saya pernah mengingatkan saya untuk tidak berbicara dan berprasangka seperti itu. Namun sekarang ternyata terbukti. Awalnya, ketika si ibu korban menjerat para petugas cleaners, ia mengajukan tuntutan perdata sebesar USD $ 12 juta. Tapi setelah berhasil menjerat dua guru JIS, tuntutannya naik menjadi USD $ 120 juta.

Rasanya agak lucu, kok menuntut segitu banyaknya, sedangkan saya tahu persis, pihak sekolah-lah yang pertama kali membawa anak ini ke dokter, menawari konseling, dan menutup kasusnya rapat-rapat sesuai dengan permintaan ibu korban sendiri.

Tapi ternyata, yang membongkar kasus ini kepada media, si ibu sendiri. Kepada kami, orangtua murid, si ibu korban mengatakan bahwa orang yang memperkosa anaknya bertubuh tinggi besar dan hitam.
Tapi begitu di televisi, si ibu mengatakan yang memperkosa anaknya berambut pirang dan bermata biru.

Dari situ aja udah tidak benar. Karena itu saya tergerak untuk memindahkan anak saya ke sekolah lain. Namun apa daya, anak saya tidak mau dipidahkan, sampai ia menangis-nangis. Rupanya ia happy di sekolah ini. Karena itu, saya berpikir, untuk ikut membela sekolah ini. Sebab, kalau bukan saya yang membela sekolah ini, siapa lagi? Kami, ibu-ibu orangtua murid, kompak untuk melakukan sesuatu demi kebaikan sekolah ini.


Moms Joice


JIS, kesannya memang tertutup dan arogan. Tapi, cobalah lihat lebih dekat. JIS melakukan ini karena itu menjaga privatisasi para murid, sesuai dengan permintaan para orangtua murid sendiri.

JIS mempunyai kepedulian sosial yang tinggi, mereka mengajarkan kepada para murid untuk memiliki sensitivitas terhadap lingkungan sekitar mereka. Mereka diajarkan untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan hidup sekitar mereka, terutama orang-orang yang gak mampu. Mereka belajar menyumbangkan apa saja yang bisa mereka berikan untuk lingkungan sekitar mereka yang kekurangan.

Dan Neil adalah salah satu koordinator program sosial JIS. Neil salah satu koordinator sosial,, dia jarang berinteraksi anak. Dia salah atu  inspirator jakarta clean. Dia lebih cinta indonesia. Dan satu lagi, dia jarang berinteraksi dengan anak-anak. Karena itu, kita benar-benar gak rela jika Neil dan juga JIS, dituduh dengan tuduhan sekeji itu...


Source : http://antitesanews.com/news/politik/21-01-2015/100-testimoni-ibu-ibu-orangtua-murid-jis-mengapa-saya-membela-terdakwa-jis-bukan-korban
Testimoni Ibu-ibu Orangtua Murid JIS Mengapa Saya Membela Terdakwa JIS, Bukan Korban Testimoni Ibu-ibu Orangtua Murid JIS Mengapa Saya Membela Terdakwa JIS, Bukan Korban Reviewed by Antitesa on January 21, 2015 Rating: 5

No comments:

Home Ads

Powered by Blogger.