Awan mendung menggelayut di langit Ibu Kota Jakarta. Angin pun bertiup
semilir menggoyang-goyang pucuk pepohonan, ketika mobil yang kami tumpangi
meluncur mulus di Jalan Terogong, Jakarta Selatan, Rabu (13/11). Setelah
melalui beberapa keramaian lalu lintas, dan beberapa tikungan, akhirnya kami
tiba di tempat tujuan.
Di hadapan kami, pintu gerbang berwarna hijau setinggi tiga meter terbuka
secara otomatis. Tampak tiga orang sekuriti berbaju birumenghadang mobil Toyota
Alphard yang kami tumpangi. Semuanya
memegang radio komunikasi dua arah.
Seorang petugas keamanan tampak memberi
hormat kepada orang di dalam mobil, menanyakan keperluan, sementara yang
lainnya mengecek bagasi serta melihat kolong mobil menggunakan cermin khusus.
Di hadapan mobil yang kami tumpangi dipasang tiga jajar barikade dari besi
baja. Di depannya lagi terdapat barikade yang menganga, yang juga otomatis, dari
besi dan rantai yang ditanam di lantai aspal.
Wah.. wah... ketat sekali pengamanannya. Seperti pengamanan Istana
Kepresidenan dan kedutaan besar saja. Dari luar, lokasi ini tampak bukan
sekolah, tapi itulah sekolah Jakarta International School (JIS), sekolah
bertaraf internasional yang katanya terbaik di Indonesia, yang belakangan
mendapat sorotan negatif dari masyarakat karena adanya dugaan kasus pelecehan
seksual yang dilakukan oleh sejumlah petugas kebersihan dan dua orang guru
terhadap murid TK JIS.
Menurut petugas Public Relation JIS yang menemani kami saat itu, pengamanan
JIS ini memang setaraf dengan pengamanan embassy atau kedutaan-kedutaan besar. Pengamanan
super ketat ini diberlakukan sejak sekolah ini mendapat ancaman teror bom yang
serius pada tahun 2005 lalu.
“JIS merupakan salah satu sasaran utama ancaman teror bom pada waktu itu,”
katanya.
Maklumlah, siswa-siswi yang bersekolah di JIS adalah anak-anak ekspatriat
atau pun putera-puteri pejabat kedutaan.
Setelah selesai diperiksa, mobil yang kami tumpangi itu pun meluncur
kembali, menuju tempat yang kami tuju, yaitu kampus PIE (Pondok Indak
Elementary), sebutan untuk Taman Kanak-kanak JIS.
Memasuki kampus PIE, selain petugas yang mempunyai ID Card, para pengunjung
biasa tidak bisa berkeliaran keluar masuk. Mereka harus menukarkan kartu
identitas mereka dengan kartu pengunjung. Begitu pula kami. Saat itu kami tujuan
kami berkunjung adalah meliput acara doa bersama yang digelar oleh Serikat
Pekerja JIS untuk dua orang guru TK JIS dan lima orang petugas kebersihan yang
dialihdaya di JIS, yang saat itu ditahan di Kejaksaan karena diduga melakukan
tindakan asusila terhadap murid TK JIS.
Sebelum acara dimulai, kami menunggu di ruang tunggu. Sambil menikmati kue
yang dihidangkan, dari ruang tunggu yang dindingnya sebagian besar dari kaca
itukami bisa melihat-lihat areal kampus PIE JIS, lokasi di mana kejadian
tindakan asusila itu terjadi.
Sebagian besar kampus PIEterbuat dari kaca. Ruang guru, ruang nursery,
termasuk ruang kepala sekolah di mana pencabulan terhadap anak TK tersebut
berlangsung, terbuat dari kaca.
Hilir mudik anak-anak sekolah, petugas sekolah, guru, dan juga orangtua
murid, yang mayoritas bule, dapat terlihat
dari ruang tunggu, dan mereka pundapat melihat kami.Dari satu ruangan ke
ruangan lain pun dapat saling melihat.
Karena itu, sungguh mengherankan bila ada kejadian tindakan asusila
terhadap murid di ruang yang serba terlihat seperti ini, seperti yang
dituduhkan kepada guru TK JIS, Neil Bentlemen dan asisten guru Ferdinand Tjiong.
Apalagi kejadian tersebut berlangsung di saat-saat jam sekolah, rasanya tidak
mungkin.
Kondisi sekolah JIS ini memang jarang terekspos ke media, apalagi sejak
adanya kasus tindak asusila tersebut, karena memang pihak sekolah, atas
permintaan orangtua murid, tidak memperkenankan hal tersebut.
“Orangtua murid sangat protektif, mereka tidak mau sekolah di mana tempat
anak mereka belajar diekspos ke media,” kata teman kami dari petugas PR JIS
tersebut.
Karena itu, sekali lagi, sangat
mengherankan bila tuduhan bahwa di sekolah yang pengamanannya super ketat ini
terjadi pelecehan seksual terhadap murid TK yang baru berusia 5 tahun.
Dalam persidangan kasus JIS di Pengadilan Negeri Jakarta
Selatan pun terungkap banyaknya fakta akan kejanggalan kasus JIS.
Misalnya saja,
berdasarkan tuduhan dari Ibu Korban, yakni TPW, bahwa putranya, MAK
diduga telah mengalami
tindak kekerasan seksual sebelum dan sesudah hari ulang tahun salah satu
temannya di tanggal 15 Maret 2014. Kemudian, ceritanya berubah menjadi tuduhan kekerasan
seksual (sebanyak 13 kali) di toilet Anggrek Kampus PIE JIS pada jam sekolah
dari bulan Desember 2013 - Maret 2014.
Berdasarkan fakta,
banyak foto MAK yang menunjukkan keceriaan di kurun waktu tuduhan tersebut. Di
kurun waktu tersebut, MAK masih tetap pergi ke sekolah, bermain dan belajar
seperti biasa. Terdapat kejanggalan bahwa seorang anak dapat dengan mudah
kembali belajar dan bermain setelah diduga mengalami kekerasan seksual berulang
kali. Lokasi toilet Anggrek menunjukkan keramaian di sekitar area tersebut dan
dalam kurun waktu jam sekolah, sehingga patut dipertanyakan bagaimana seseorang
dapat melakukan tindakan asusila baik sekali maupun berulang-ulang kali dengan
mengetahui bahwa di luar toilet terdapat keramaian.
Hal di atas baru satu fakta akan kejanggalan kasus JIS, masih banyak fakta
lainnya. Dan hal ini menunjukkan bahwa kasus JIS memang kasus rekayasa demi kepentingan dan
keuntungan pihak tertentu (dalam hal ini pihak pelapor, yaitu Ibu Theresia
Pipit Widowati Kroonen). Dan lagi-lagi yang menjadi korban adalah rakyat kecil
yang tak mampu berbuat apa-apa, yaitu para petugas kebersihan JIS, dan juga dua
guru JIS yakni Neil dan Ferdi.
Dengan terkuaknya fakta akan kejanggalan kasus JIS dan
belum ditemukannya alat bukti yang kuat, maka sebaiknya kasus ini dihentikan.
Bahkan, sejak kasus ini bergulir di Pengadilan Negeri Jakarta
Selatan, sejumlah fakta penting mengungkap bahwa tindak kekerasaan seksual
terhadap MAK tersebut tidak ada.
Kasus ini harus
dihentikan, karena selain menyeret orang-orang yang tak berdosa menjadi
pesakitan, juga telah membuat rakyat kecil menderita, yaitu terdakwa petugas
kebersihan dan keluarganya. Sejak para petugas kebersihan itu ditahan,
perekonomian keluarga mereka menjadi semakin morat-marit. Mereka harus
menanggung derita dari dosa yang tidak pernah mereka perbuat.
Sekolah dengan Keamanan Ketat, Kasus JIS Menyeret Orang Tak Berdosa
Reviewed by Antitesa
on
November 17, 2014
Rating:
No comments: