Facebook SDK

banner image

Sekolah dengan Keamanan Ketat, Kasus JIS Menyeret Orang Tak Berdosa

Awan mendung menggelayut di langit Ibu Kota Jakarta. Angin pun bertiup semilir menggoyang-goyang pucuk pepohonan, ketika mobil yang kami tumpangi meluncur mulus di Jalan Terogong, Jakarta Selatan, Rabu (13/11). Setelah melalui beberapa keramaian lalu lintas, dan beberapa tikungan, akhirnya kami tiba di tempat tujuan.

Di hadapan kami, pintu gerbang berwarna hijau setinggi tiga meter terbuka secara otomatis. Tampak tiga orang sekuriti berbaju birumenghadang mobil Toyota Alphard yang kami tumpangi. Semuanya memegang radio komunikasi dua arah.

Seorang petugas keamanan tampak memberi hormat kepada orang di dalam mobil, menanyakan keperluan, sementara yang lainnya mengecek bagasi serta melihat kolong mobil menggunakan cermin khusus.

Di hadapan mobil yang kami tumpangi dipasang tiga jajar barikade dari besi baja. Di depannya lagi terdapat barikade yang menganga, yang juga otomatis, dari besi dan rantai yang ditanam di lantai aspal.

Wah.. wah... ketat sekali pengamanannya. Seperti pengamanan Istana Kepresidenan dan kedutaan besar saja. Dari luar, lokasi ini tampak bukan sekolah, tapi itulah sekolah Jakarta International School (JIS), sekolah bertaraf internasional yang katanya terbaik di Indonesia, yang belakangan mendapat sorotan negatif dari masyarakat karena adanya dugaan kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh sejumlah petugas kebersihan dan dua orang guru terhadap murid TK JIS.

Menurut petugas Public Relation JIS yang menemani kami saat itu, pengamanan JIS ini memang setaraf dengan pengamanan embassy atau kedutaan-kedutaan besar. Pengamanan super ketat ini diberlakukan sejak sekolah ini mendapat ancaman teror bom yang serius pada tahun 2005 lalu.

“JIS merupakan salah satu sasaran utama ancaman teror bom pada waktu itu,” katanya.

Maklumlah, siswa-siswi yang bersekolah di JIS adalah anak-anak ekspatriat atau pun putera-puteri pejabat kedutaan.

Setelah selesai diperiksa, mobil yang kami tumpangi itu pun meluncur kembali, menuju tempat yang kami tuju, yaitu kampus PIE (Pondok Indak Elementary), sebutan untuk Taman Kanak-kanak JIS.

Memasuki kampus PIE, selain petugas yang mempunyai ID Card, para pengunjung biasa tidak bisa berkeliaran keluar masuk. Mereka harus menukarkan kartu identitas mereka dengan kartu pengunjung. Begitu pula kami. Saat itu kami tujuan kami berkunjung adalah meliput acara doa bersama yang digelar oleh Serikat Pekerja JIS untuk dua orang guru TK JIS dan lima orang petugas kebersihan yang dialihdaya di JIS, yang saat itu ditahan di Kejaksaan karena diduga melakukan tindakan asusila terhadap murid TK JIS.

Sebelum acara dimulai, kami menunggu di ruang tunggu. Sambil menikmati kue yang dihidangkan, dari ruang tunggu yang dindingnya sebagian besar dari kaca itukami bisa melihat-lihat areal kampus PIE JIS, lokasi di mana kejadian tindakan asusila itu terjadi.

Sebagian besar kampus PIEterbuat dari kaca. Ruang guru, ruang nursery, termasuk ruang kepala sekolah di mana pencabulan terhadap anak TK tersebut berlangsung, terbuat dari kaca.

Hilir mudik anak-anak sekolah, petugas sekolah, guru, dan juga orangtua murid,  yang mayoritas bule, dapat terlihat dari ruang tunggu, dan mereka pundapat melihat kami.Dari satu ruangan ke ruangan lain pun dapat saling melihat.

Karena itu, sungguh mengherankan bila ada kejadian tindakan asusila terhadap murid di ruang yang serba terlihat seperti ini, seperti yang dituduhkan kepada guru TK JIS, Neil Bentlemen dan asisten guru Ferdinand Tjiong. Apalagi kejadian tersebut berlangsung di saat-saat jam sekolah, rasanya tidak mungkin.

Kondisi sekolah JIS ini memang jarang terekspos ke media, apalagi sejak adanya kasus tindak asusila tersebut, karena memang pihak sekolah, atas permintaan orangtua murid, tidak memperkenankan hal tersebut.

“Orangtua murid sangat protektif, mereka tidak mau sekolah di mana tempat anak mereka belajar diekspos ke media,” kata teman kami dari petugas PR JIS tersebut.

Karena itu, sekali lagi, sangat mengherankan bila tuduhan bahwa di sekolah yang pengamanannya super ketat ini terjadi pelecehan seksual terhadap murid TK yang baru berusia 5 tahun.

Dalam persidangan kasus JIS di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pun terungkap banyaknya fakta akan kejanggalan kasus JIS.

Misalnya saja, berdasarkan tuduhan dari Ibu Korban, yakni TPW, bahwa putranya, MAK
diduga telah mengalami tindak kekerasan seksual sebelum dan sesudah hari ulang tahun salah satu temannya di tanggal 15 Maret 2014. Kemudian, ceritanya berubah menjadi tuduhan kekerasan seksual (sebanyak 13 kali) di toilet Anggrek Kampus PIE JIS pada jam sekolah dari bulan Desember 2013 - Maret 2014.

Berdasarkan fakta, banyak foto MAK yang menunjukkan keceriaan di kurun waktu tuduhan tersebut. Di kurun waktu tersebut, MAK masih tetap pergi ke sekolah, bermain dan belajar seperti biasa. Terdapat kejanggalan bahwa seorang anak dapat dengan mudah kembali belajar dan bermain setelah diduga mengalami kekerasan seksual berulang kali. Lokasi toilet Anggrek menunjukkan keramaian di sekitar area tersebut dan dalam kurun waktu jam sekolah, sehingga patut dipertanyakan bagaimana seseorang dapat melakukan tindakan asusila baik sekali maupun berulang-ulang kali dengan mengetahui bahwa di luar toilet terdapat keramaian.

Hal di atas baru satu fakta akan kejanggalan kasus JIS, masih banyak fakta lainnya. Dan hal ini menunjukkan bahwa kasus JIS  memang kasus rekayasa demi kepentingan dan keuntungan pihak tertentu (dalam hal ini pihak pelapor, yaitu Ibu Theresia Pipit Widowati Kroonen). Dan lagi-lagi yang menjadi korban adalah rakyat kecil yang tak mampu berbuat apa-apa, yaitu para petugas kebersihan JIS, dan juga dua guru JIS yakni Neil dan Ferdi.

Dengan terkuaknya fakta akan kejanggalan kasus JIS dan belum ditemukannya alat bukti yang kuat, maka sebaiknya kasus ini dihentikan. Bahkan, sejak kasus ini bergulir di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, sejumlah fakta penting mengungkap bahwa tindak kekerasaan seksual terhadap MAK tersebut tidak ada.

Kasus ini harus dihentikan, karena selain menyeret orang-orang yang tak berdosa menjadi pesakitan, juga telah membuat rakyat kecil menderita, yaitu terdakwa petugas kebersihan dan keluarganya. Sejak para petugas kebersihan itu ditahan, perekonomian keluarga mereka menjadi semakin morat-marit. Mereka harus menanggung derita dari dosa yang tidak pernah mereka perbuat.



Sekolah dengan Keamanan Ketat, Kasus JIS Menyeret Orang Tak Berdosa Sekolah dengan Keamanan Ketat, Kasus JIS Menyeret Orang Tak Berdosa Reviewed by Antitesa on November 17, 2014 Rating: 5

No comments:

Home Ads

Powered by Blogger.