Facebook SDK

banner image

Profesionalitas Polisi Tangani Kasus JIS Diragukan



Fiddy Anggriawan - Okezone

JAKARTA - Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mengaku prihatin dan meragukan profesionalitas polisi dalam penegakan hukum di Indonesia.

Dalam sepekan terakhir sejak kriminalisasi yang terjadi pada komisioner KPK Bambang Wijoyanto dan nenek Asyiani muncul sejumlah kasus lain yang sangat mencoreng kredibilitas dan kepercayaan publik kepada polisi.

Pertama, brutalitas polisi dalam penanganan anggota yang mengunakan narkoba dengan diikat di tiang bendera di kantor Polsek Gambir, Jakarta Pusat. Jika anggotanya saja diperlakukan seperti itu lalu bagaimana dengan warga sipil biasa? Apakah cara tersebut diakui oleh hukum acara pidana di Indonesia?

Kedua, fakta baru dari Rumah Sakit di Singapura yang menunjukan tidak adanya bekas sodomi pada salah satu siswa JIS yang diklaim menjadi korban sodomi dua guru JIS dan kini kasusnya sudah sampai pengadilan.

Fakta tersebut semakin menambah daftar kejanggalan dalam kasus JIS, seperti adanya pekerja kebersihan yang meninggal dan disiksa tapi polisi tidak pernah melakukan pemeriksaan atas kejanggalan-kejanggalan tersebut.

"Situasi yang saat ini terjadi sungguh memperihatinkan. Agenda reformasi Polri penting segera dilakukan, terutama pada bagian reserse," tegas Koordinator KontraS, Haris Azhar, Selasa (31/32015).

Pada kesempatan berbeda politikus Partai Amanat Nasional (PAN) Bara Hasibuan berharap majelis hakim yang mengadili dua guru JIS mampu mengungkap kebenaran dan tidak mengabaikan fakta-fakta yang muncul dalam persidangan.

"Saya mengikuti kasus JIS ini sejak awal yang melibatkan para pekerja kebersihan. Belajar dari vonis terhadap para pekerja kebersihan yang tidar fair itu, saya berharap hakim dapat mengungkap kasus ini secara jelas dan gamblang. Bukti-bukti medis yang menunjukkan bahwa anak yang dikatakan korban ternyata tidak mengalami sodomi merupakan fakta penting yang tidak bisa diabaikan. Jangan sampai guru yang tidak bersalah jadi korban atas dasar prasangka," papar Bara.

Sebagai salah satu orangtua siswa di JIS Bara menilai kasus ini sangat aneh. Salah satu contohnya adalah besarnya dukungan dari orangtua siswa kepada dua guru dan pekerja kebersihan yang menjadi korban kriminalisasi ini.

Menurut Bara, besarnya dukungan itu menunjukkan keyakinan bahwa kasus ini sesungguhnya tidak pernah ada. Apalagi seiring dengan adanya laporan ke polisi, ibu korban MAK juga menggugat JIS senilai triliunan rupiah atas dugaan adanya sodomi kepada si anak.

"Orangtua murid tidak punya kepentingan dalam kasus ini. Jika ada sebersit keraguan atas tuduhan ini, pasti semua sudah akan ikut membela si Ibu yang mengaku jadi korban. Di sini, yang terjadi malah sebaliknya. Begitu banyak orangtua murid yang mendukung Neil dan Ferdi," jelasnya.

Sejumlah fakta medis dalam kasus ini selalu menyebutkan bahwa sodomi tidak pernah terjadi. Terbaru adalah hasil laporan dari KK Women's and Children's Hospital Singapore, yang sudah dilengkapi dengan dokumen asli putusan High Court of Singapore pada 11 Februari 2015. Dalam laporannya pihak RS menyebutkan bahwa kondisi anus AL normal dan tidak menunjukkan ciri-ciri sebagai korban sodomi.

Fakta medis berikutnya dari keterangan Dr Lutfi dari Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) di persidangan yang dihadirkan sebagai ahli. Menurut Dr Lufti, MAK atau anak pertama yang mengaku menjadi korban sodomi tidak pernah mengidap penyakit herpes. Laporan adanya nanah yang ada di anus MAK bukan disebabkan oleh virus melainkan diduga bakteri.

Bara pun berharap kasus ini dapat segera terungkap dan hakim dapat meluruskan kesalahan yang terjadi pada kasus pekerja kebersihan. Ia juga yakin hukum masih akan berpihak pada kebenaran, bukan oleh opini publik.

"Hakim harus berani utk memutuskan perkara berdasarkan bukti-bukti yg dipresentasikan di pengadilan. Sangat jelas bukti-bukti itu sangat lemah dan justru membuktikan para terdakwa tidak bersalah," tegas Bara.
(fid)

Sumber : http://web.rcti.web.id/read/read/2015/03/31/338/1127150/profesionalitas-polisi-tangani-kasus-jis-diragukan

Profesionalitas Polisi Tangani Kasus JIS Diragukan Profesionalitas Polisi Tangani Kasus JIS Diragukan Reviewed by Antitesa on May 26, 2015 Rating: 5

No comments:

Home Ads

Powered by Blogger.